Tuesday, January 1, 2013

biru tahun baru

Hanya di malam itu jam 12 begitu ditunggu-tunggu. Tak ada yang benar-benar spesial. Jam 12 telah diulang berkali-kali. Tapi malam itu, untuk menyambut pukul 12 dan waktu setelahnya. orang-orang keluar dari rumah mereka, terompet ditiup kuat-kuat, musik dipasang keras-keras dari setiap sudut kota, dan ledakan-ledakan berwarna-warni mewarnai angkasa seperti coretan krayon di atas kanvas hitam.

Apa yang membuat malam itu spesial?

Apakah malam itu sebuah awal? Apakah malam itu sebuah akhir? Apa arti tahun-tahun yang mengalir, hari-hari yang membentuknya, jam-jam dan menit-menit yang berenang kencang di dalamnya, dan detik-detik yang menjadi partikel terkecilnya?

Taman di tengah kota lebih berdesakkan dibanding biasanya. Orang-orang tiba-tiba membanjirinya, duduk di pagar temboknya dan kursi-kursi, memakan gorengan dan meneguk minuman manis. Tertawa keras pada lelucon paling tak lucu sekalipun dari teman-teman mereka.

Laki-laki tua itu telah berjalan mendorong rodanya sejak sore. Berpuluh-puluh jalan telah dilewatinya, diiringi oleh mobil-mobil yang bersahutan tak sabar di belakangnya. Kakinya terasa mati rasa walau ia telah beristirahat berkali-kali. Tapi ia tak peduli. Inilah satu-satunya hidup yang ia tahu. Waktu terasa seperti air yang mengalir melewati kakinya ketika hujan mengguyur kota. Mengalir dengan begitu cepat; hanya diselang oleh panggilan yang menghentikan langkahnya.

Warna-warni di angkasa dan tawa meledak di sekelilingnya, dia tetap berjalan tanpa melihat ke atas langit atau ke sekitarnya. Waktu terus mengalir di kakinya, bukan pada jam dan tahun.

Perempuan itu duduk menatapi laki-laki tua itu, sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kekasihnya. Ia sudah lama tak melewatkan waktu selama ini dengan kekasihnya. Mereka melewatkan banyak waktu di tahun sebelumnya terpisah dari satu sama lain, tersedot oleh pekerjaan dan pertengkaran-pertengkaran yang menjadi bagian terbesar dari percakapan mereka. Ia melirik kekasihnya, laki-laki tinggi, berkacamata, dengan mata paling dalam dan indah yang membuatnya tak bisa melepaskannya, seburuk apapun kata-kata yang telah mereka lemparkan kepada satu sama lain. Malam ini mereka pun bercakap-cakap, di antara keramaian. Menurut keduanya, ini adalah percakapan terbaik yang pernah mereka miliki, terutama karena mereka tidak bisa mendengar suara masing-masing, dengan riuhnya taman dan ledakan di angkasa.

Teriakan bosan "kita pulang yuk!" dari kekasihnya terdengar menjadi "peluk aku!", dan perempuan itu dengan terharu memeluk kekasihnya yang mengerut kaget. Tapi laki-laki itu tak menolak pelukan naifnya yang begitu spontan. Seperti ciuman cepat di pipinya ketika mereka pertama kali berjalan bersama sebagai kekasih.

Jarum jam menunjuk ke angka 12. Terompet-terompet bersahut-sahutan ribut. Ledakan kembang api dimana-mana.

Ia menyapukan ciuman cepat di pipi kekasihnya. Gadis itu tersenyum.

Di sebuah hotel di belakang mereka, di lantai 4, seorang gadis sedang terisak dan menghindari tatapan laki-laki yang duduk di sebelahnya. Suara ledakan dan terompet menenangkannya, karena itu memberinya harapan bahwa tangisnya tak terdengar. Laki-laki itu, kekasihnya, menyatakan tahun ini adalah tahun baru untuk mereka dan ia ingin membuka lembaran baru di hubungan mereka. Ia ingin melakukan sesuatu yang baru, pertama, bersama, dengan gadis itu. Tapi gadis itu memukulnya keras ketika dia hendak memulainya.

Ia mengeluh, menyatakan gadis itu tak siap melakukan hal baru di tahun baru ini. Gadis itu hanya terisak. Kalau begitu hari ini tidak usah tahun baru, teriak gadis itu. Dia tak bisa membuka sesuatu yang baru. Dia ingin segalanya tetap sama.

Ia bahkan hampir memanggil polisi yang bertugas di bawah sana.

Polisi yang sedang bertugas mengatur arus kendaraan di dekat taman kota itu terhenyak melihat angkasa. Masa bertugas di malam seperti ini adalah yang terberat, karena istrinya terus mengiriminya foto-foto anak mereka yang baru lahir dan bagaimana dia berusaha meniup terompet. Ia ingin melewatkan malam ini dengan mereka. Tapi melihat ke langit, ia diam-diam teringat masa kecilnya, ketika ia menatapi langit pada pukul 12, 20 tahun lalu, ketika ia pertamakali bermimpi untuk menjadi dirinya sekarang. Untuk menjadi polisi seperti ayahnya, yang saat itupun tak ada di sampingnya. Mungkin ada di posisinya sekarang, dulu. Pukul 12, 20 tahun lalu.

Seorang anak kecil berlari-lari menghampiri polisi itu. Ia menarik-narik kakinya. Matanya merah, dan ada air yang mengucur deras dari sana. Bibirnya bergetar. Ayah saya hilang, Pak, katanya. Kemana Ayah? Polisi itu menepuknya dan bertanya kapan dia terakhir bersama ayahnya. Seperti apa Ayahnya. Anak laki-laki itu berbisik,

setahun lalu, di sini. Pukul 12 ini. Ayah saya di sini. Sekarang dia tidak ada.

Kemana dia Pak?

Dia mungkin ditelan waktu, ia ingin menjawab. Tapi itu tak pernah masuk akal untuk siapapun. Tak ada yang ingin mengaku bahwa mereka ditelan waktu. Mereka ingin merasa bahwa mereka mengendalikan waktu dan menamainya seingin mereka. Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. 2011, 2012, 2013. Mereka ingin menamainya dengan segala hal.

Tapi waktu tak pernah punya nama, tak pernah punya angka.

Mari, saya bantu kamu mencari, katanya akhirnya.



Selamat tahun baru teman-teman :)

1 comment:

  1. kata-kata ka farida selalu sulit untuk tertebak.. suka ^^

    ReplyDelete