Saturday, March 16, 2013

Hujan pun Tidak Berhenti

Aku tidak pandai membaca pertanda atau arti dari perilaku seseorang. Seperti ketika aku kecil dan ibuku terus membacakan cerita yang sama setiap malam. Alih-alih membacakan cerita dari buku-buku dongeng yang sudah ada, dia membacakan ceritanya sendiri. Isinya selalu tentang hujan. Hujan yang berperilaku seperti manusia. Hujan yang turun ketika dia ingin turun, hujan yang berhenti ketika dia ingin berhenti.
Aku menerimanya mentah-mentah selama aku kecil, dan aku percaya hujan benar-benar melakukan itu. Aku percaya hujan punya kehendak. Ibuku mungkin orangtua paling aneh saat itu, memperkenalkan konsep hujan lebih awal dari konsep Tuhan. Tapi itu yang dia lakukan.
Hingga sesuatu terjadi di suatu hari. Kami tidak duduk bertiga di meja makan pada suatu pagi. Ayah katanya pergi, dia menemukan orang lain yang ia pilih lebih dari kami. Ibu mulai berubah. Ia tidak membacakanku dongeng-dongeng lagi. Dia tidak pergi kemana-mana, hanya tidur dengan posisi seperti bayi di dalam kandungan di dalam kamarnya. Dia juga berhenti makan, berhenti mandi.
Sebelum dan sepulang sekolah, aku akan duduk di sampingnya, mengajaknya bicara walau ia tak pernah menyahut apapun yang kukatakan. Kadang aku memintanya untuk makan, tapi dia tidak membiarkannya masuk ke dalam perutnya. Lama-lama aku bisa melihat tulangnya menonjol di tubuhnya. Ia hanya minum seperlunya, lalu tidur lagi. Aku kadang berusaha menangis keras di sampingnya, tapi itu pun tak menggerakkannya.
Lalu suatu hari dia berbalik di tempat tidurnya dan menggenggam tanganku. Dia meminta maaf. Aku tak mengerti.
Dia mulai bercerita. Tentang hujan lagi. Kali ini berbeda. Katanya hujan tak mau berhenti. Katanya hujan tak punya lagi kehendak, tak punya lagi kekuatan untuk bertindak.
Hujan hanya tak pernah berhenti, di suatu kota. Yang jauh. Yang tak pernah kulihat, katanya. Aku memeluknya tapi dia begitu dingin dan ia tertidur.
Aku tak pandai membaca tanda-tanda. Ketika esoknya dia tak ada lagi di sana, aku tak menemukan apa-apa. Hanya kertas-kertas yang berserakan di atas kasurnya. Tentang hujan yang tak pernah berhenti.

1 comment:

  1. Aku sampai sekarang bingung loh simbolisasinya Kak. Dari awal mikirnya hujan itu Sang Ibu atau tangisan Sang Ibu. Tapi malah tambah bingung menuju akhirnya, hehe. But it's a great work

    ReplyDelete